Rabu, Desember 03, 2008

Sampai Mana Kita Harus Mengikuti Client ?

Ini pertanyaan yang membutuhkan jawaban teliti, tidak mengedepankan emosi, namun lebih kepada logika plus efek samping dari jawaban yang diberikan pada kelanjutan relationship dengan client.

Jika anda sebagai AE, mungkin, sebagai bentuk penghargaan dan juga bagian dari client service, mungkin anda akan ikuti terus menerus keinginan client. Tapi, faktanya, ada beberapa keinginan client yang akhirnya menjatuhkan profit bahkan terkesan semena - mena. Contoh, "Eh, gua punya budget 100juta nih, mau buat expo di mall nih 1 minggu penuh, space 8x6, elu bisa bantu ga, pokoknya dengan budget itu udah include booth, showcase, terus SPG dengan kostumnya, sama sabtu minggu, gua mau ada entertainment, ada MC couple yang fresh & goodlooking, band..ehmm nggak usah ngetop2 amat, dancers juga, sama ada games yang melibatkan teknologi di produk gua" Gitu kata client...
Terus...ehm, misalnya sudah dibuat rough budget, lets say biaya produksi 92juta, dengan budget client yang 100 juta itu, artinya ada profit 8juta kan ? Udah cukup segitu profit kita?
,Yaah, kadang kita suka cari alasan, gini nih misalnya, "ya, gpp lah, ini kan project perdana kita sama dia, yang penting ini sukses dulu deh..."
Oke... alasan yang bisa diterima sih, menurut saya, tapi secara logika, kalau yang ini sukses dengan budget dan profit yang minimalis, akankah ada project yang lebih baik dari client yang sama nantinya ?

Ceritanya, quot sudah masuk nih, 100juta fixed, eeh, si client complaint, "Waduh...budget loe, terlalu banyak di man power yang nggak penting nih... man power di take out aja dari quotation-nya..."

Walah, ini yang kerja mau dibayar apa Bapak/Ibu client?

Oke, coba kita ikutin dulu, kita keluarin budget man power dan kita masukkan ke item production yang lain.

kita proposed lagi quotation revised,

Next update dari client : "eh, bos gua maunya selain ada band, ada dancers dan ada model juga, nggak usah yang terkenal modelnya, cuma buat present product aja, Tapi...dengan budget yang sama ya..."

Whats?! He..he..he, kita coba ikutin lagi deh, items dari production cost yang masih bisa dikurangin, kita coba kurangin dan kita ambil untuk memenuhi keinginannya dengan model.

Terus, kita masukin lagi budget dengan angka yang sama tapi dengan penambahan items...

Terus....


Nah, kebayang kan maksud dari tulisan saya kali ini. Dalam hati kecil kita yang bergerak dalam service industry, mengupayakan yang terbaik bagi client adalah sebuah keharusan dan menjadi kebanggaan tersendiri kalau akhirnya client merasa puas. Tapi, dalam kasus semacam ilustrasi diatas, sampai mana kita harus mengupayakan yang terbaik untuk client? sampai kapan kita harus menunggu dan mengikuti keinginannya? Apalagi, kalau client kita, belum tahu banyak mengenai bagaimana proses kerja EO, atau mungkin client adalah bagian purchasing yang penekanannya adalah budget yang efisien tanpa tahu biaya kebutuhan yang harus EO tanggung...

Nah, pertanyaannya untuk kasus semacam ini, sampai mana kita harus mengikuti mereka? apakah ketika kita sudah mengeluarkan semua kemampuan menjelaskan secara logika tidak bisa diterima oleh client? atau cuek aja, kita ikutin aja, profit kecil nggak apa - apalah, asal ada kerjaan ...whoaaa....kerja bakti dong... :)

3 komentar:

  1. hampir sama dengan kasus saya dijogja mas, kebetulan saya jg baru kelar bikin event Liga Bola Basket Mahasiswa tingkat daerah se DIY
    Client kita juga sama susahnya dengan client anda, apalagi client kita ini orang baru yang masih belum ngerti benar dengan porsi promosi
    akhirnya dengan budget yang minta diminimkan terus tapi minta service ditambah terus hehehehe
    Untungnya event kita masih bisa jalan dan sukses malah...

    Rasanya semua tinggal tergantung pandainya kita mengambil hati para client aja biar rela merogoh kantongnya asal kita memang bisa memberikan yang lebih baik...

    btw klo ada event di jogja kontak2 aja, sapa tau bisa kerja sama jadi anda jg nda direpotkan lagi dengan biaya transportasi dan akomodasi :)

    BalasHapus
  2. Setuju mas, masalahnya sekarang, sampai sejauh mana kekuatan kita untuk menolak client yg seperti ini ?

    BalasHapus
  3. setuju dengan dunianyawira ,saya sering mengalami hal semacam ini. dimana client tidak mengerti situasi dan harga di daerah. kebetulan saya di Jayapura,papua.
    harga/budget bisa 2x lipat dari harga jakarta tetapi kadang client tidak percaya,nah ketika mereka datang langsung dan membuktikan sendiri barulah mereka percaya.

    salam kenal dari Vicca Sera, EO di Papua

    BalasHapus