Selasa, Oktober 14, 2008

Tidak ada EO Lokal!


Tulisan ini merupakan rangkuman dari postingan saya sebelumnya, tentang kurang dipercayanya EO lokal oleh EO dari Jakarta, atau EO pusat, atau EO yang mendapat project untuk pertama kali kemudian di-sub-kan. Semua tanggapan bernada positif, optimis dan cukup bergairah untuk sekedar menyatakan bahwa EO lokal akhirnya berfungsi sebagai kontraktor / vendor / penanggung jawab produksi / bahkan ada juga yang menyebut EO lokal hanya berperan sebagai supplier saja. Peran EO lokal yang menjadi kepanjangan tangan EO Jakarta, memang banyak yang berfungsi sebagai kontraktor saja. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut memang merupakan akibat dari betapa perkasanya sentralisasi Jakarta sebagai pusat dari semua kegiatan, termasuk strategi promosi dari product yang menjadi client eo, semuanya digarap di Jakarta, daerah hanya menjadi bagian dari tempat dimana strategi tersebut diimplementasikan.

Padahal tidak semua EO lokal hanya menjadi kepanjangan tangan EO Jakarta lho. Percaya nggak, ada EO di Surabaya, yang tahun lalu mencanangkan omset project-nya mencapai 2M selama setahun, dan itu tercapai! Bahkan, rekan EO yang gemar menyantap makanan Jepang ini, menggandakan targetnya di tahun 2008, total 4M, di penghujung tahun ini, tinggal 400juta saja yang harus ia cari untuk menggenapi targetnya.
Tahu nggak apa yang dia lakukan? Sebelum masuk ke periode tahun 2007, tepatnya di akhir 2006, ia menghubungi beberapa marketing/promotion manager area, karena tingkat kedekatan hubungan dengan client dan maintenance yang baik, ngobrol ngalur ngidul dengan client dilakukan yang ujung - ujungnya, minta dikasih kesempatan untuk melihat marketing plan 1 tahun ke depan, jika diberikan, itu dijadikan panduan baginya untuk menjadwalkan event, lalu, bentuk creativenya, dia yang buat. Sederhananya, ia menawarkan konsep promosi produk client, selama 1 tahun penuh. Konsepnya benar - benar baru dan bukan pengulangan dari aktivitas yang sudah pernah dibuat client. Ini dilakukan bukan hanya ke 1 client, tapi ke beberapa client. Sama seperti konsep investasi, jangan pernah meletakkan telor dalam 1 keranjang yang sama :) Setidaknya 30 s/d 50% dari target yang dicanangkan berhasil diraih dari pengajuan konsep 1 tahun ini.

Konsep 1 tahun ini, memang banyak revisinya, terutama, bila client cukup cerdas menganalisasi tingkat keberhasilan event dalam menunjang penjualan produknya. Sisa 50% nya lagi, dia cari dari lemparan job dari EO di Jakarta, yang kebetulan memang sudah menjadi teman lama, selain itu, ia juga nekad berkolaborasi dengan beberapa radio, untuk mencari tahu artist kelas A atau B yang sedang promo dan ditukarlah sejenak peran EO-nya menjadi promotor konser kecil - kecilan.
Jadi, kalau anda masih berpikir bahwa EO lokal hanya kepanjangan tangan dari EO di Jakarta, Hmmm..rasanya salah banget. Nggak semuanya menunggu project dari EO Jakarta.
Saya berani jamin, tidak semua EO di Jakarta bisa mencapai target 2M pada omset project-nya per-tahun, padahal nominal 2M setahun itu menurut saya, termasuk kecil. Sekarang, event gathering berformat gala dinner di ballroom hotel Jakarta saja, rata - rata client harus merogoh kocek berkisar 300 - 500 Juta, artinya, kalau dapat 4 x selama 1 tahun, kan sudah pasti target terpenuhi.
Jadi, jangan under estimate dulu dengan EO lokal, apalagi memberi label sekedar kontraktor bahkan supplier pada mereka.
Saya sendiri, merasa agak risih dengan istilah EO lokal, toh, EO di Jakarta pun masih banyak yang berkutat dengan event di area mereka sendiri, bukankah itu juga lokal namanya ? Gimana kalau kita sebut rekan EO di daerah, sebagai EO di kota mereka, jadi, EO di Bali, EO di Surabaya, ketimbang penggunaan kata "lokal" yang terkesan menurunkan kasta mereka.

2 komentar:

  1. Halo salam kenal mas Yudhi...

    Sekedar menanggapi apa yang sudah mas yudi ulas mengenai EO lokal, kebetulan saya juga "bermain" di bisnis EO lokal di SBY. Saya pikir masalah trust terhadap EO lokal yang mas yudi bilang cenderung menjadi Underestimate tergantung pada kredibilitas EO masing2, kebanyakan dari untrusty ini terjadi karena histori hubungan antara pusat dan daerah yang tidak smooth atau katakanlah gagal. Dan menurut pengalaman saya kegagalan bisa disebabkan oleh beberapa faktor penting diluar Error atau kualitas dari masing2 pihak, yaitu 1. kemampuan si EO lokal menyerap kebutuhan,sistem dan standart yang diminta oleh pusat. 2. Si pusat yang belum memiliki sistem yang bagus untuk arrangement EO lokalnya. Dua hal ini sangat menentukan keberhasilan hubungan bisnis keduanya diluar kualitas yang dmiliki masing2 pihak. IMHO ya mas yudhi... dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi. BTW, kalo ada kerjaan di surabaya ya.. tetep ujung2nya jualan. hehehe.. thx.. pencerahannya mas, biar milist lebih berwarna, sayang banyak yang g sadar fungsi milist.

    BalasHapus
  2. Apa yang anda tulis benar sekali mas, kalau saya melihatnya, sebenarnya under estimate tadi harusnya juga dikoreksi oleh EO pusat yang kadang lemah dalam koordinasi.

    BalasHapus