Jumat, Oktober 17, 2008

Pitching Setan!

Bukan karena baru saja kalah pitching, saya posting dengan judul yang tidak sopan, berkesan marah, bahkan memaki. Bukan!

Ini adalah ungkapan yang dipakai untuk mewakili pitching yang kita ikuti, kemudian kita kalah, namun dengan alasan yang tidak jelas, dibuat - buat, bahkan juga karena pitching ini murni sebuah joke yang sengaja diciptakan client sebagai bagian dari formalitas, karena sebenarnya EO jagoannya sudah sejak awal di set sebagai pemenang.

Saya agak shock juga, ketika saya dapati dalam file kerja di external hard-disk, tercatat hampir 60 konsep yang pernah dibuat sepanjang tahun 2007, 30% persennya merupakan proses pitching. Saya review sekilas, beberapa kekalahan, memang diantaranya karena pitching setan, ada EO yang memang dibawa oleh big bos perusahaan client, ada juga yang sebenarnya sudah main mata langsung dengan client, ada pitching kali kedua yang kita ikuti dan kita kalah, lalu eo yang dipilih ternyata ya EO yang menggarap project sebelumnya. Mungkin berprasangka buruk pada client karena kekalahan dalam proses pitching adalah bagian dari bentuk pembelaan diri, wajar sih orang Indonesia, mencari kambing hitam! Tapi, (tuh kan, lagi - lagi saya membela diri) ada beberapa kecurigaan yang memang didasarkan pada indikasi tertentu, misalnya, kala itu saya ikut pitching di sebuah perusahaan otomotif besar, ketika usai proses brief yang diikuti oleh 5 EO sudah selesai, ada satu EO yang tinggal di ruangan tersebut tanpa kita tahu apa yang terjadi disana. Bahkan ada juga yang secara kebetulan usai proses brief, bertemu dengan client di tempat lain, ini terjadi kala itu, pitching untuk event sebuah bank besar, ada 5 EO yang diundang, waktu itu, setelah turun dari lift dan menunggu kendaraan datang, saya ada urusan sedikit di gedung yang sama, kira - kira setengah jam saya masih di tempat itu, ada sebuah coffe corner di perkantoran itu, dan saat saya selesai, eh, si client lagi ngobrol bedua - duaan dengan salah satu EO. Wah, langsung bad feeling nih, efeknya jadi kurang semangat untuk ngerjainnya.

Saya jadi ingat ucapannya bung Kepra dari Saka Infosa, kala itu kita ketemuan untuk terima brief dari salah satu perusahaan asuransi besar, sambil nunggu kita ngobrol ngalur ngidul, ujungnya bicara mengenai pitching, dia bilang, "meskipun kita tahu pitching tertentu adalah fiktif, namun sebagai bentuk penghargaan kita kepada client, kita akan tetap datang dan memberikan konsep, meskipun effortnya jelas berbeda dengan pitching yang fair."
"Dari mana tahunya kalau itu pitching fiktif?" tanya saya.
"Feeling dan pengalaman!"

Effort yang kita berikan untuk pitching baik fair ataupun fiktif, menurut saya dan juga teman - teman pasti setuju, sebenarnya sudah sangat besar dan itu sudah merupakan bagian dari proses kerja kita, artinya, kita sudah bekerja, mengeluarkan segenap pikiran, ide, tenaga dan juga uang tentunya untuk operasional!
Tapi apa bentuk penghargaan atas usaha itu?
Pitching Fee?
Wah, saya nggak terlalu yakin itu bisa diaplikasikan dalam waktu dekat ini. Kalau saja EO punya asosiasi yang solid, satu suara dan berkomitmen untuk bersama mengaplikasikannya di hadapan client, mungkin bisa!
Pertimbangan berikutnya, apakah client mau mengeluarkannya?
Bagaimana kalau client tidak akan mengundang EO yang mengenakan pitching fee?
Nah, karena EO sudah punya asosiasi dan sudah berkomitmen untuk mengenakan pitching fee, pertanyaannya kita kembalikan lagi ke client, siapa yang mau diundang?
Kalau ada pitching fee, client pasti akan selektif memilih EO yang diundang untuk proses pitching, pasalnya, mereka nggak mau dong buang uang percuma untuk EO yang kalah, namun konsep yang diajukan-pun plain, nggak ada sense of suprising-nya sama sekali.

Kita berhenti saja membicarakan pitching fee, karena masih di awang - awang. Tanpa adanya itu-pun saya yakin masih banyak EO yang mau bersusah payah membuat konsep event yang menarik, mendesain stage yang kadang harus outsource, merelakan begadang untuk mengejar deadline, tapi ya tolong di hargai! Bentuk penghargaannya sederhana saja kok,
1. Pitching yang fair (Jika sebenarnya sudah ada EO jagoan, lebih baik konsultasi saja dengan EO tersebut, biar mereka yang mengatur peserta pitching lainnya).
2. Ucapan terimakasih kepada EO yang kalah, baik secara formal ataupun informal. (misalnya seperti yang dilakukan Toyota, dengan mengirimkan fax ucapan terimakasih karena sudah memberikan yang terbaik, semoga di waktu yang akan datang kita dapat bekerja sama. Atau yang dilakukan Isuzu dan FIF, dengan bicara melalui phone, bahkan memberikan masukan ke EO apa kekurangannya)

Bagi EO, kalah dan menang dalam proses pitching itu hal yang biasa, tapi, menjadi tidak biasa dan sangat mengecewakan apabila kalah ternyata pitching yang diadakan hanyalah sebuah lelucon konyol, atau tidak adanya bentuk penghargaan, padahal, sekedar ucapan terima kasih dan berbasa basi semoga di lain waktu bisa kerja sama, bagi saya, itu saja, sebenarnya, sudah lebih dari cukup.

2 komentar:

  1. bener pak, tapi kalau data2 lengkap dan harga bagus client bisa goyang juga tuh, sepengalaman saya hal tersebut bisa juga terjadi kalo nilai pagu anggarannya di >3M

    BalasHapus